Identitas Kota : Makassar Smart dan Sombere’ City

Kevin Lynch dalam bukunya The Image of The City mendefenisikan identitas kota adalah citra mental yang terbentuk dari ritme biologis tempat dan ruang waktu tertentu yang mencerminkan waktu (sense of time), yang ditumbuhkan dari dalam secara mengakar oleh aktivitas sosial, ekonomi, budaya masyarakat kota itu sendiri.

Pertambahan penduduk kota yang semakin banyak akan memacu percepatan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pusat-pusat kegiatan ekonomi semakin bertambah, gedung-gedung perkantoran , proyek infrastruktur kota terus dipacu. Akan tetapi yang menjadi tantangn kota adalah ketika semuanya itu terus berkembang secara sporadis tanpa arah. Pembangunan yang sporadis tanpa arah pada akhirnya akan melahirkan kota-kota tanpa identitas.

Dari pengertian tersebut di atas, dapat dipahami bahwa identitas suatu kota tidak sekedar simbolis arsitektural semata. Membangun identitas kota tidak cukup hanya membuat landmark semata. Identitas kota adalah sense yang tercipata dari kehidupan sosial masyarakat kota.

Makassar Smart dan Sombere’ city adalah program yang telah ditetapkan sebagai program unggulan Pemerintah Kota Makassar. Danny Pomanto selaku Walikota Makassar dalam sebuah wawancara media mengungkapkan “Sombere’ dan Smart City adalah dua kata yang sejajar berdiri. Sombere’ itu mewakili akar budaya lokal, sementara Smart City adalah pengembangan ilmu dan teknologi untuk wajah Makassar yang akan datang”. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa Makassar Smart City dan Makassar Sombere’ City bukanlah sebatas program kerja, akan tetapi sebuah nilai-nilai yang akan menjadi identitas kota Makassar.

Smart City adalah identitas perkembangan kota yang modern. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi penunjang yang utama dalam pembangunan kota yang berkelanjutan, terutama dalam layanan publik dan tata kelola pemerintah. Smart City akan membentuk citra Makassar sebagai kota yang aman, nyaman, melek teknologi dan tentu saja kota yang efektif dan efisien dalam segala dimensi pembangunan.

Sombere’ adalah adalah identitas warga kota yang bersumber dari nilai-nilai budaya Makassar. Sombere’ dalam bahasa Makassar diartikan sikap yang ramah, rendah hati, dan peduli. Sombere’ akan menjadikan Makassar sebagai kota yang nyaman dan aman bagi penghuninya.

Penduduk Kota Smart dan Sombere’

Kota adalah karya seni sosial warganya. What is a city but its citizen, kata Shakespeare. We shape our cities and then the cities will shape us, ungkap Churchill.

Makassar Smart City, Sombere’ City bukanlah slogan yang hanya bisa dikampanyekan ataukah dipajang di baliho yang berjejer di jalan-jalan kota. Makassar yang smart dan sombere’ adalah Makassar dengan penduduk yang juga smart dan sombere’. Identitas sebagai kota yang smart dan sombere’ berhasil ketika penduduk kota dan juga orang-orang yang berkunjung ke Makassar merasakan kondisi smart dan sombere’ itu mewujud dalam kehidupan sehari-hari.

Yasrif seorang budayawan mengungkapkan bahwa tantangan yang sering dijumpai dalam pembangunan Smart City adalah adanya jurang pemisah antara teknologi dan cara berpikir masyarakat yang sering disebut “cultural lag”. Jangan sampai terjadi kontradiksi dimana teknologi yang cerdas tapi masyarakat yang gagap teknologi. Di satu sisi juga kita menemukan perkembangan kota yang sangat pesat akan tetapi penduduknya tercabut dari akar budaya-nya yang luhur.

Membangun kota yang smart dapat dimulai dengan membangun kemandirian belajar warga kota. Kemandirian belajar dibutuhkan untuk melakukan akselerasi kemajuan ilmu pengetahuan dan toknologi. Sehingga skill penggunaan teknologi cepat dikuasai. Budaya long life education disebagian besar masyarakat kota tercipta. Tentu saja hal tersebut akan ditunjang dengan adanya pusat-pusat sarana belajar kota yang dikelola dengan baik. Pemerintah kota membuka lebar dan mendukung penuh inovasi-inovasi dari masyarakatnya.    

Membangun kota yang sombere’ dapat dilakukan dengan mempertahankan peninggalan bersejarah dan warisan budaya. Pembangunan yang modern bukanlah pembangunan yang mengganti bangunan-bangunan bersejarah dengan gedung-gedung baru yang megah. Breakwell (1993) mengemukakan diantara prinsip identitas yang penting adalah self-esteem. Self-esteem merupakan suatu evaluasi diri atau kelompok yang positif yang dengannya seseorang mengidentifikasikan diri. Dan salah satu cara untuk membangun self-esteem adalah hidup ditempat-tempat bersejarah. Oleh karena itu, peninggalan bersejarah dalam bentuk bangunan fisik, kelompok masyarakat budaya, warisan dalam bentuk tulisan adalah bagian yang penting untuk dilestarikan.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *