Islam dan Politik

Isu persoalan agama beberapa waktu lalu menjadi isu yang banyak diperbincangkan dimedia sosial. Isu ini muncul dari mengawali perhelatan pemilu gubernur DKI. Ada kalangan yang menganggap bahwa isu agama tidak relevan lagi untuk diperbincangkan, yang terpenting adalah kualitas kepemimpinannya. Kalangan lain bersikap keras, bahwa dalam hal kepemimpinan, bagi umat islam adalah suatu hal yang mendasar dikarenakan dalam Al-Qur’an diperintahkan untuk memilih pemimpin islam. Terlebih lagi di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Bagi penulis sendiri, menganggap bahwa perbincangan dan kampanye untuk “memilih pemimpin islam” bukanlah hal yang relevan untuk dijadikan isu dalam setiap pemilihan kepala daerah.  Mengapa? Karena hal tersebut sudah menjadi kewajiban bagi umat islam. Disatu sisi, dengan melihat kondisi dimana kesadaran masyarakat terkait perintah memilih pemimpin islam belum banyak tumbuh, maka tentu saja perbincangan dan kampanye untuk “memilih pemimpin islam” relevan untuk dilakukan.

Ibnu Taimiyah dalam bukunya “As-Siyasah asy-Syar’iyah” mengungkapkan bahwa “ Perlu diketahui bahwa penunjukan seseorang sebagai pemimpin merupakan salah satu tugas agama yang paling besar. Bahkan agama tidak akan tegak dan dunia tidak akan baik tanpa pemimpin tersebut. Kemaslahatan umat manusia tidak akan terwujud kecuali dengan menata kehidupan sosial. Karena sebagian mereka memerlukan sebagian yang lain. Sedangkan kehidupan sosial itu harus ada yang memimpinnya”.

Dalam hal yang lebih jauh lagi, sesuatu hal yang perlu diingatkan pada umat islam bahwa memilih pemimpin dan menjalankan peran dan fungsi pemerintahan (red Politik) adalah bagian yang integral dalam islam. Kita tidak bisa meletakkan islam di satu kutub extrem sementara politik di kutub extreme yang lain, seakan-akan kedua hal tersebut adalah sesuatu yang saling bertentangan dan tidak mungkin bertemu.

Penulis terkesan dengan ungkapan salah satu pembaharu gerakan islam dari Mesir, Hasan Al-Banna yang menggambarkan islam dalam kalimatnya bahwa “Islam adalah sistem yang menyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan. Islam adalah pemerintahan dan umat, kasih sayang dan keadilan, ilmu pengetahuan dan peradilan, jihad dan dakwah. Sebagaimana islam adalah aqidah yang murni dan ibadah yang benar.”

Haruskah Umat Islam Menepi?

Dunia politik yang kita temui saat sebagaimana diungkapkan Anis Matta dalam bukunya menikmati demokrasi adalah dunia yang gaduh. Tempat orang-orang cerdas bersiasat saling bertaruh, berdebat, memamerkan “otot-otot” pengetahuan dan ambisi. Dunia politik adalah dunia dimana persahabatan dan sikap-sikap dibangun  di atas landasan kepentingan yang rendah. Disisi lain dunia politik adalah tempat bersemayamnya kekeuasaan yang secara pasti akan mempengaruhi orang banyak.

Dunia politik menjadi gaduh dalam proses mencapai kekuasaan karena seluruh kepentingan dari semua golongan dan aliran pemikiran bertaruh. Semua ambisi kepentingan berkumpul dalam satu jalur politik merebut kepemimpinan untuk mengelola sumber daya yang sangat besar, yakni sumber daya negara atau daerah. Berbagai strategi dirumuskan, siasat mencari celah untuk menang dilakukan. Berbagai macam cara digunakan yang baik maupun salah. Semuanya itu melahirkan persepsi tentang politik. Hampir-hampir saja kita tidak mendengarkan persepsi yang baik tentang dunia politik. Lebih banyak persepsi yang buruk dimunculkan. Politik uang, kampanye hitam, saling menghujat, korupsi yang dilakukan oleh politikus, dan masih banyak lagi.

Dunia politik dengan segalah persepsi yang buruk itu, apakah harus membuat umat islam menjauh/menepi dari dunia politik?

Dengan alasan ketakutan dan ketidaksukaan hingga membangun tembok pemisah, dan menjauhkan diri dengan dunia politik bukanlah langkah yang tepat. Dunia politik dengan segala nuansanya yang ada saat ini boleh jadi membuat kita alergi hingga membuat kita mengasingkan diri dari dunia politik. Tapi itu bukanlah alasan, karena Rasulullah dan sahabat-sahabatnya juga tidak menyukai perang.

Menjauhkan diri dari perebutan kepemimpinan dengan alasan menghindari kemudharatan pada hakikatnya justru mendatangkan kemudharatan yang lebih besar. Mundur dari pertarungan merebut kepemimpinan berarti membuka peluang kepada kelompok yang tidak membawa misi islam untuk memimpin. Dan dalam kepemimpinannnya justru bisa jadi membawa kemudharatan bagi ummat dan juga umat islam.

Misi islam untuk memakmurkan bumi, mensejahtrahkan masyarakat, menegakkan keadilan dan menata kehidupan sosial itulah dunia politik. Merebut kepemimpinan untuk mewujudkan misi itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari dunia politik. Kemanfaatan yang besar dalam skala yang luas bisa diwujudkan melalui kepemimpinan mengelola negara. oleh karena itu, umat islam tidak boleh alergi dan mengasingkan diri dari dunia politik.

You May Also Like

About the Author: agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *