Toleransi Fiqih

Sebelum jauh melangkah pada tema toleransi antar umat beragama, marilah kita menengok kembali kehidupan kita sesama muslim. Adakah toleransi itu hadir ditengah-tengah kita ataukah hanya menjadi tema-tema pengajian yang tidak mewujud dalam kehidupan sehari-hari?. Apakah  ukhuwah diantara sesama umat muslim masih kuat ataukah mulai merenggang oleh ego dan fanatisme masing-masing madzhab fiqih?

Tak jarang kita mendapati fenomena dimana sesama muslim berselisih, berdebat, sesat menyesatkan, hingga sampai pada menghukumi kafir kepada salah satu pihak lantaran karena perbedaan pandangan fiqih. Karena perbedaan itu potensi umat islam menjadi lemah. Kita mendapati umat islam dalam jumlah yang banyak tetapi ibarat buih di lautan yang hampir-hampir saja tidak bernilai apa-apa.

Setiap hari umat islam disibukkan dengan perbedaan diantara mereka. Berdiskusi panjang tentang cara bersuci, antara qunut dan tidak qunut, dzikir, dan seterusnya. Hal ini bukan berarti tidak penting, akan tetapi jika itu menyita waktu, tenaga dan pemikiran maka akan menjadi hal yang merugikan umat islam. Umat islam akan disibukkan dengan hal yang sifatnya cabang, sementara disisi lain terjadi pemurtadan yang masif karena kemiskinan.

Perbedaan pendapat dalam masalah-masalah fiqih merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Perbedaan ini selamanya akan kita dapati dalam kehidupan umat islam. Meskipun ulama memiliki sumber hukum yang sama, yakni Al-Qur’an dan Sunnah tetap saja kita menemukan perbedaan. Bahkan jika menelisik sejarah, perbedaan pendapat ini ada sejak zaman Rasulullah.

Jika demikian adanya, maka yang paling mungkin untuk dilakukan adalah setiap umat islam toleran dalam menyikapi masing-masing pendapat. Toleransi fiqih yang dimaksudkan adalah akhlak untuk menghargai, menghormati, serta kelapangan dada dalam menerima perbedaan fiqih yang ada dalam umat islam. Perbedaan pemahaman dalam masalah-masalah furu” (cabang) diantara umat islam, hendaklah bukan menjadi faktor permusahan dan pemecah dikalangan umat islam. Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa  mengungkapkan bahwa “adapun perbedaan pendapat dalam masalah-masalah fiqih, maka harus lebih terkendali”.

Membangun toleransi fiqih di antara umat islam tentu saja dimulai dari cara pandang dan cara berpikir setiap individu muslim. Memandang bahwa perbedaan pendapat dalam masalah fiqih adalah suatu sunnatullah akan menjadikan individu muslim menjadi lebih bijak. Kesadaran individu bahwa ukhuwah islamiah diatas landasan aqidah yang benar lebih penting untuk dijaga harus selalu ditumbuhkan. Sikap dan pemikiran moderat akan menjadikan individu muslim lebih terbuka dalam menerima perbedaan yang ada.

Selanjutnya setelah tumbuh kesadaran individu muslim, hal yang terpenting untuk dibangun adalah keteladanan seorang pemimpin kelompok madzhab kepada para pengikutnya. Sikap toleran pemimpin akan menjadi contoh yang baik bagi para pengikutnya. Doktrin yang diberikan pemimpin kepada pengikutnya bukanlah doktrin kebencian karena perbedaan, akan tetapi doktrin yang diberikan adalah kebiksanaan untuk menerima perbedaan.

Pada akhirnya, persatuan umat islam akan tergantung pada sikap toleransi masing-masing kelompok dalam menyikapi perbedaan-perbedaan fiqih yang ada.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *