Enkulturasi Budaya Meneliti

Word class university

Menuju Word Class University bukanlah hal yang mudah bagi UNM, tapi itu juga bukanlah utopia belaka bagi kampus orange itu. Kusmastanto (2007) mengemukakan beberapa kriteria world class university, di antaranya adalah 40 persen tenaga pendidik bergelar Ph.D, publikasi internasional 2 paper per staf per tahun, jumlah mahasiswa pascasarjana 40 persen dari total populasi mahasiswa (student body), anggaran riset minimal US$ 1300 per staf per tahun, jumlah mahasiswa asing lebih dari 20 persen, dan Information Communication Technology (ICT) 10 KB per mahasiswa. Sementara itu, Ambrose King dari Chinese University of Hong Kong (dalam Mohrman, 2005), mengungkapkan bahwa kampus berkelas internasional adalah kampus dengan fakultas yang secara tetap mempublikasikan penelitian mereka pada jurnal-jurnal yang diakui oleh disiplin keilmuan masing-masing, juga lulusannya dapat bekerja diseluruh penjuru dunia.

Levin, Jeong dan Ou (2006: 33-35) membuat beberapa tolok ukur dari apa yang disebut sebagai world class university sebagai berikut.

Pertama dilihat dari keunggulan penelitian (excellence in research), antara lain ditunjukkan dengan kualitas penelitian, yakni produktivitas dan kreativitas penelitian, publikasi hasil penelitian, banyaknya lembaga donor yang bersedia membantu penelitian, adanya hak patent, dan sejenisnya. Kedua dilihat dari kebebasan akademik dan atmosfer kegembiraan intelektual. Ketiga dilihat dari pengelolaan diri yang kuat (self-management). Keempat dilihat dari fasilitas dan pendanaan yang cukup memadai, termasuk berkolaborasi dengan lembaga internasional. Kelima dilihat dari keanekaragaman (diversity), antara lain kampus harus inklusif terdahap berbagai ranah sosial yang berbeda dari mahasiswa, termasuk keragaman ranah keilmuan.

Keenam dilihat dari internasionalisasi, misal internasionalisasi program dengan: meningkatkan pertukaran mahasiswa, masuknya mahasiswa internasional atau asing, internasionalisasi kurikulum, koneksi internasional dengan lembaga lain (kampus dan perusahaan di seluruh dunia) untuk mendirikan program berkelas dunia. Ketujuh dilihat dari kepemimpinan yang demokratis, yaitu dengan kompetisi terbuka antar-fakultas dan mahasiswa, juga kolaborasi dengan konstituen eksternal. Kedelapan dilihat dari mahasiswa yang berbakat. Kesembilan dilihat dari penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Kesepuluh dilihat dari kualitas pembelajaran dalam perkuliahan. Kesebelas adalah koneksi dengan masyarakat atau kebutuhan komunitas. Keduabelas dilihat dari kolaborasi internal kampus.

Melihat dari persyaratan di atas, terutama pada point pertama maka diduga kuat hal ini juga yang mendasari KEMENDIKBUD lewat Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti), menerbitkan Surat Edaran Nomor 152/E/T/2012 yang mengharuskan mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 menerbitkan karya ilmiah sebagai salah satu syarat kelulusan. Terlebih lagi berdasarkan data Dikti 2010, hanya ada dua jurnal ilmiah yang terakreditasi A, dan 26 jurnal ilmiah terakreditasi B. Bahkan menurut Dirjen Dikti, terbitan jurnal ilmiah Indonesia masih sepertujuh dari jurnal ilmiah Malaysia (Kompas, 03/02/12).

Enkulturasi budaya meneliti

Koentjaraningrat seorang Antropolog mengatakan bahwa suatu ciri khas manusia adalah bahwa ia selalu ingin tahu; dan setelah itu ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecendrungan untuk ingin lebih tahu lagi. Begitulah seterusnya, hingga tidak sesaatpun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap.

Sifat keingintahuan adalah sifat kodrati bagi manusia sekaligus menjadi potensi besar bagi akademika untuk melakukan penelitian. Hanya saja setiap potensi akan sia-sia dan tidak bermanfaat ketika potensi itu tidak di latih dan dikembangkan.

Enkulturasi (pembudayaan), adalah suatu proses sosial melalui manusia sebagai makhluk yang bernalar, punya daya refleksi dan intelengensia, belajar memahami dan mengadaptasi pola fikir, pengetahuan dan kebudayaan sekelompok manusia lain.

Enkulturasi budaya meneliti menjadi hal yang penting bagi Universitas yang memvisikan word class university. Oleh karena itu segala kebijakan yang dilakukan oleh birokrasi kampus adalah kebikakan yang mendorong dosen dan mahasiswa untuk terus berinovasi melalui penelitian-penelitian.

Enkulturasi budaya meneliti, sejak lama sudah dilakukan di negara-negara maju. Di Negeri Paman Syam, ada ungkapan menarik berkaitan dengan budaya menulis dan meneliti di kalangan pengajar di universitas Amerika Serikat yaitu publish or perish:” terbitkan atau binasakan”. Untuk bisa menjadi pengajar atau profesor tetap di universitas di Amerika atau sering disebut tenure, seseorang harus mampu mengajar dan juga memublikasikan karya ilmiah. Jika dua kualitas tersebut tidak terpenuhi, pihak universitas bisa memberhentikan pengajar tersebut kapan saja. Tak ayal jika tiap tahunnya, seorang pengajar sangat produktif menghasilkan karya ilmiah.

You May Also Like

About the Author: agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *