Menggugat Pendidikan Indonesia

Tanggal 2 Mei setiap tahunnya, dalam skala nasional diperingati Hari Pendidikan Nasional. Pada kenyataanya setiap momen yang diperingati dinegara kita hanya sebatas ritual belaka. Kita tidak pernah berani untuk menilai kualitas pendidikan kita. Apakah semakin menurun atau terjadi peningkatan. Tidak hanya sampai pada kesimpulan seperti itu, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah Sumber Daya Manusia yang dilahirkan dari rahim pendidikan kita? Apakah selama ini agenda-agenda ataupun kebijakan yang dibuat oleh pemerintah ataupun instansi lain sudah berada pada jalur yang semestinya?. Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti inilah yang mestinya kita mesti kaji lebih dalam.

Pendidikan memiliki peranan yang sangat vital bagi sebuah negara. Jatuh bangunnya suatu negara akan ditentukan kualitas sumber daya manusianya dan sumber daya manusia itu sangat tergantung pada kualitas pendidikan negara itu. Oleh karena itu, cerminan dari keinginan suatu bangsa untuk bangkit akan tergambar sejauh mana perhatian negara tersebut untuk memperbaiki pendidikan.

Hakekat dari pendidikan pada dasarnya adalah proses kemanusian dan pemanusiaan. Sejalan dengan hal diatas maka dirumuskan empat pilar pendidikan UNESCO, yakni (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, dan (4) learning live together. Dengan demikian, maka pendidikan akan menjadikan manusia untuk dapat menguasai ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan, menjadi dirinya sendiri sesuai dengan bakat dan kemampuannya, serta dapat hidup bersama dengan sesamanya. Manusia yang diharapkan tidak hanya sekedar cerdas tetapi juga memiliki akhlak yang mulia.

Tujuan pendidikan yang luhur dan mulia yakni Manusia seutuhnya juga diidealisasikan dalam tujuan pendidikan nasional dalam UU-RI No.20 Tahun 2003, Pasal 3, bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Mencermati tujuan pendidikan nasional yang ada di atas, maka akan tergambar tujuan pendidikan sejati yakni proses pembentukan moral masyarakat beradab, masyarakat yang tampil dengan wajah kemanusian dan pemanusian. Sumber Daya Manusia dengan kualitas moral dan intelektual yang tinggi akan banyak di jumpai di negeri ini.

Ki Hajar Dewantara, sebagai Bapak Pendidikan Indonesia memandang pendidikan sebagai suatu proses yang kompleks. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Proses pendidikan bukanlah suatu hal yang parsial dalam pelaksanaannya, tetapi adalah suatu hal yang saling terintegrasi satu sama lain.

Humanisasi dan Dehumanisasi Pendidikan

Pendidikan adalah suatu proses yang memiliki ruh. Ruh inilah yang kemudian menjadi hakekat pendidikan. Ruh itu adalah agenda pendidikan sebagai proses kemanusian dan pemanusiaan. Kemanusiaan menurut Sudarwan adalah sifat-sifat manusia, berprilaku selayaknya perilaku normal sebagai manusia atau bertindak dalam logika berfikir sebagai manusia,. Pemanusiaan merupakan proses menjadikan manusia agar memilki rasa kemanusiaan, menjadi manusia dewasa, manusia dalam makna yang seutuhnya. Singkatnya pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia. Manusia yang secara riel menjadi manusia yang mampu menjalankan tugas pokok dan fungsi secara penuh sebagai pemegang mandat Ilahiat dan kultural. Manusia yang sadar diri sebagai makhluk Tuhan dan sebagai insan berbudaya yang senangtiasa bertindak arif dan bijaksana dalam hubungannya dengan manusia dan lingkungan.

Immanuel Kant menyatakan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Menurut konsep ini, anak manusia harus dididik oleh manusia, dengan cara manusia, dan dalam nuansa kehidupan manusia. Dengan cara itu, anak manusia itu akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya. Manusia tidak akan dapat menjadi manusia seutuhnya, jika tidak melalui proses pendidikan oleh manusia, dengan cara manusia, dan dalam suasana kemanusiaan. Education should be thought of as the process of man’s reciprocal adjustment to nature, to his fellows, and to the ultimate nature of the cosmos. Pendidikan harus difikirkan sebagai proses penyesuaian timbal balik manusia dengan alam, dengan manusia lain, dan akhirnya terhadap alam raya ini (Brubacher).

Di sisi lain, ketika melihat fenomena yang ada dilingkungan sosial kita, maka sedikit banyaknya akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari hati nurani sebagai seorang manusia. Apakah kita sebagai peserta didik sudah menjadi manusia yang seutuhnya? Apakah pendidikan kita masih layak sebagai lini terdepan dalam proses kemanusiaan dan pemanusiaan? Apakah manusia Indonesia dengan segala jenjang pendidikan yang telah diraihnya, benar-benar mampu menampilkan dirinya sebagai manusia terdidik?

Sayangnya parameter utama menilai kualitas pendidikan kita berdasar pada deretan angka-angka semata. Belum ada perangkat evaluasi yang dirumuskan untuk menilai aspek yang lain sebagaimana nilai-nilai yang dicita-citakan pendidikan nasional kita. Ada yang salah dipendidikan kita. Ada yang hilang dalam proses pendidikan kita, di tengah banyaknya institusi dan lembaga pendidikan di negara ini.

Kasus Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang terjadi dikalangan elit politik, Lebih parah lagi fenomena munculnya prahara akademik di lingkungan institusi pendidikan yang diharapkan menjadi pelopor dalam perbaikan moral bangsa banyak kita jumpai. Kasus kekerasan anak, perkelahian pelajar, kasus narkoba yang melibatkan pelajar, sampai pada perilaku amoral seperti seks bebas yang menjerumuskan pelajar mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi. Di samping itu, selingkuh intelektual calon ilmuan dengan cara plagiatisme dan perjokian dalam penyusunan tugas akhir atau tesis. Termasuk di antaranya menjiplak hasil penelitian untuk kepentingan kenaikan pangkat. Hal yang marak juga kita jumpai ada jual beli ijazah oleh beberapa oknum yang tidak jarang pelakunya juga merupakan tenaga pendidik yang telah meraih gelar Professor. Orang yang semestinya berada di depan dalam membangun moral bangsa, justru menjadi penggerak dalam mensukseskan semakin jatuhnya moral anak-anak bangsa.

Realitas dan tabiat sosial kontemporer terasa makin sulit untuk kita pahami. Pendidikan menjadi ajang pertengkaran dan manipulasi nilai kemanusiaan. Pendidikan (lembaga pendidikan) tidak lagi menjadi tempat untuk membentuk manusia yang sahih. Pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia justru memberi contoh dehumanisasi. Pendidikan tidak lagi menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang pada dasarnya adalah fitrah manusia.

Pendidikan yang saat ini berlangsung di negara kita telah kehilangan arah karena separuh dari peta pendidikan yang sengaja ataupun tidak sengaja dihilangkan. Maraknya kekerasan, praktik aborsi, pornografi, tawuran, pelanggaran etika dan norma-norma sosial lain yang banyak terjadi di kalangan pelajar menunjukan telah terjadi dehumanisasi pendidikan di hampir setiap jenjang pendidikan. Kondisi itu terjadi sebagai bukti dari dampak orientasi pendidikan yang belakangan hanya sebagai komoditas kekuasaan dan juga kepentingan bisnis semata. Proses pendidikan tidak hanya menjadikan guru sebagai instruktur dan pawang semata, tetapi juga mengedepankan nilai kuantitas ketimbang nilai-nilai kemanusiaan dalam barometer pembelajaran. Pendidikan Indonesia sudah kehilangan arah. Pendidikan di Indonesia dalam bentuk sekolah telah tercabut dari akar kesejarahan sistem pendidikan nasional. Pendidikan di Indonesia sudah tidak lagi bertumpu pada nilai-nilai dasar pendidikan yang memerdekakan, pendidikan yang menyadarkan dan pendidikan yang memanusiakan manusia muda dan pengangkatan manusia muda ke taraf insani.

Pendidikan diartikan dalam pengertian yang sangat sempit. Pendidikan selama ini hanya suatu batu loncatan yang ditempuh untuk memasuki area kerja. Akibatnya, yang ada adalah orang-orang yang memburu ijazah, yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan gelar. Padahal pendidikan adalah proses hidup. Pendidikan itu bukan sekadar untuk mentransfer ilmu-pengetahuan (transfer of knowledge) kepada peserta didik, tetapi lebih dari itu adalah mentransfer nilai (transfer of value) agar mereka menemukan jati dirinya. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai kerja multicerdas yang menuntut peserta didik mengembangkan potensi kreativitasnya agar tetap memiliki moral, mental, dan daya juang yang tinggi dalam hidupnya. Hal itulah yang belum ada dalam dunia pendidikan kita.

Proses humanisasi sebagai agenda utama pendidikan tidak lagi diperhatikan oleh banyak pihak. Akibatnya kondisi bangsa dengan sumber daya yang melimpah tidak mampu dikelola dengan baik, yang ada hanyalah menambah krisis yang terjadi di negara ini. Sumber Daya Manusia yang ada dihasilkan dari hasil pendidikan selama ini cerdas tetapi tidak memilki moral yang mampu membawa negeri ini kearah yang lebih baik. Oleh karena itu, upaya humanisasi dalam proses pendidikan adalah sesuatu hal yang mutlak dikedepankan. Dengan demikian bangsa ini dapat pulih dari keterpurukan moral yang selama ini melanda bangsa ini.

You May Also Like

About the Author: agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *