Pendidikan Indonesia, Sebuah Paradigma

Salah satu amanah kemerdekaan yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Maka untuk mencapai kondisi yang cerdas maka diselenggarakanlah pendidikan sebagai suatu proses untuk menciptakan manusia-manusia cerdas. Manusia yang cerdas tersebut diidealisasikan dalam tujuan pendidikan nasional dalam UU-RI No.20 Tahun 2003, Pasal 3, bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Harapan untuk menjadi bangsa yang cerdas terlihat masih jauh dengan melihat beberapa perkembangan yang ada. Pertama, laporan dari United Nations Development Programme (UNPD) mencatat indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia pada 2012 meningkat sebesar 0,629, Indonesia menempati urutan ke-121 di seluruh dunia untuk nilai IPM. Meskipun demikian pada sektor pendidikan angka harapan tahun belajar Indonesia yang terus stagnan dalam tiga tahun terakhir. Data UNPD menyebutkan, tingkat ekspektasi tahun belajar Indonesia tetap berada pada level 12,9 pada 2010, 2011, dan 2012. Artinya, penduduk Indonesia memiliki harapan sekolah selama 12,9 tahun atau hanya mencapai sekolah menengah pertama (Tempo.co). Kedua, ketidakseriusan pemerintah untuk memajukan pendidikan nasional yang dibuktikan dengan pelaksanaan Ujian Nasional yang banyak menimbulkan masalah. Ketiga, tidak jelasnya arah kebijakan pendidikan yang ditandai dengan silih bergantinya Kurikulum. Keempat, orientasi perguruan tinggi yang bergeser dari tri darma perguruan tinggi yang telah menjadi patron.

Mencermati kondisi tersebut, maka Restorasi Pendidikan Indonesia perlu untuk dilakukan. Maksud dari restorasi pendidikan adalah upaya untuk meluruskan praktek pendidikan yang sudah caut-marut ini pada pondasi yang benar dan sesuai dengan karakter filosofis pendidikan. Sedang dari aspek empiris, restorasi diartikan untuk dapat melakukan perubahan untuk meningkatkan kualitas daya saing suatu bangsa.

Restorasi dari Dehumanisasi menuju Humanisasi Pendidikan

Kasus Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang terjadi dikalangan elit politik dengan strata pendidikan yang tinggi. Fenomena munculnya prahara akademik di lingkungan institusi pendidikan yang diharapkan menjadi pelopor dalam perbaikan moral bangsa banyak kita jumpai seperti, kasus kekerasan anak, perkelahian pelajar, kasus narkoba yang melibatkan pelajar, sampai pada perilaku amoral seperti seks bebas yang menjerumuskan pelajar mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi. Di samping itu, selingkuh intelektual calon ilmuan dengan cara plagiatisme dan perjokian dalam penyusunan tugas akhir atau tesis. Termasuk di antaranya menjiplak hasil penelitian untuk kepentingan kenaikan pangkat. Hal yang marak juga kita jumpai ada jual beli ijazah oleh beberapa oknum yang tidak jarang pelakunya juga merupakan tenaga pendidik yang telah meraih gelar Professor. Orang yang semestinya berada di depan dalam membangun moral bangsa, justru menjadi penggerak dalam mensukseskan semakin jatuhnya moral anak-anak bangsa.

Realitas dan tabiat sosial kontemporer terasa makin sulit untuk kita pahami. Pendidikan menjadi ajang pertengkaran dan manipulasi nilai kemanusiaan. Pendidikan (lembaga pendidikan) tidak lagi menjadi tempat untuk membentuk manusia yang sahih. Pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia justru memberi contoh dehumanisasi. Pendidikan tidak lagi menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang pada dasarnya adalah fitrah manusia.

Pendidikan adalah suatu proses yang memiliki ruh. Ruh inilah yang kemudian menjadi hakekat pendidikan. Ruh itu adalah agenda pendidikan sebagai proses kemanusian dan pemanusiaan. Kemanusiaan menurut Sudarwan adalah sifat-sifat manusia, berprilaku selayaknya perilaku normal sebagai manusia atau bertindak dalam logika berfikir sebagai manusia,. Pemanusiaan merupakan proses menjadikan manusia agar memilki rasa kemanusiaan, menjadi manusia dewasa, manusia dalam makna yang seutuhnya. Singkatnya pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia. Manusia yang secara riel menjadi manusia yang mampu menjalankan tugas pokok dan fungsi secara penuh sebagai pemegang mandat Ilahiat dan kultural. Manusia yang sadar diri sebagai makhluk Tuhan dan sebagai insan berbudaya yang senangtiasa bertindak arif dan bijaksana dalam hubungannya dengan manusia dan lingkungan.

Immanuel Kant menyatakan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Menurut konsep ini, anak manusia harus dididik oleh manusia, dengan cara manusia, dan dalam nuansa kehidupan manusia. Dengan cara itu, anak manusia itu akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya. Manusia tidak akan dapat menjadi manusia seutuhnya, jika tidak melalui proses pendidikan oleh manusia, dengan cara manusia, dan dalam suasana kemanusiaan. Education should be thought of as the process of man’s reciprocal adjustment to nature, to his fellows, and to the ultimate nature of the cosmos. Pendidikan harus difikirkan sebagai proses penyesuaian timbal balik manusia dengan alam, dengan manusia lain, dan akhirnya terhadap alam raya ini (Brubacher).

Restorasi Makna Pendidikan

Globalisasi memberikan ruang yang seluas-luasnya kesempatan untuk terus mengembangkan diri untuk memiliki kompetensi dalam menghadapi dunia kompetisi. Tuntutan ini memberikan pengaruh pada semua bidang, tak terkecuali pendidikan. Untuk memenuhi permintaan pasar dunia kerja, maka orientasi Pendidikan Tinggi diarahkan untuk mencetak tenaga kerja, bukan untukberkontribusi pada Ilmu Pengetahuan melalui pendidikan dan penelitian. Maka dengan demikian proses yang terjadi dalam institusi pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi adalah proses pengajaran belaka, bukan proses pendidikan.

Proses pengajaran dan pendidikan adalah suatu proses yang berbeda. Pengajaran hanya akan menyentuh pada aspek kecerdasan intelegensi belaka sedang pendidikan akan menyetuh segala aspek kecerdasan, baik intelegensi, emosional, maupun spritual. Oleh karena itu penyadaran akan hal ini sangatlah penting untuk mengembalikan fungsi pendidikan.

You May Also Like

About the Author: agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *