Perkembangan Ilmu Fikih

Fikih yang dikenal sekarang ini, tidaklah tumbuh sekali tumbuh sekaligus dan langsung sempurna. Fikih melewati fase dalam perkembangannya hingga mencapai kesempurnaannya. Bahkan fikih akan terus berkembang seiring dengan perkembangan umat islam. Setelah Rasulullah wafat, maka ulama dan fuqaha era belakangan tinggal merujuk kepada apa yang diwariskan beliau yakni Al-Qur’an dan Hadist.

Syekh Muhammad Al-Hajwi membuat periode perkembangan ilmu fikih sebagaimana yang dikutip Muhammad Yusuf Musa. 4

  1. Periode pertumbuhan (daur an-nasy’ah), yaitu pada saat Rasulullah hingga wafatnya. Berlangsung selama kurang lebih 22 tahun.
  2. Periode muda (daur asy-yabab), yaitu pada masa sahabat dan tabi’in senior.
  3. Periode kematangan dan sempurna (daur an-nadh wa al-kamal), periode ini berakhir pada pertengahan abad ke empat. Pada periode ini fikih mulai dibukukan serta muncul tokoh-tokoh imam mujtahid.
  4. Periode tua (daur asy-syaikhukhan wa al-haram), yaitu masa-masa taklid, berlangsung hingga saat ini, meskipun saat ini masih dijumpai mujtahid mutlak dan mujtahid khas untuk madzhab tertentu.

Harun Nasution dan Sobhi Mahmassani, juga memberikan pandangannya terkait perkembangan ilmu fikih dan juga ushul fikih.5

Pertama, Ilmu fikih dan Ushul Fikih zaman Nabi Muhammad SAW. Pada periode atau zaman Nabi Muhammad SAW ini, sumber hukum islam yang pertama, yakni al-Qur’an, masih dalam proses turun yang memakan waktu lebih kurang 23 tahun (tahun 22 tahun, 2 bulan, 22 hari), tidak sekaligus, dan dengan cara berangsur-angsur, yakni mulai di Mekkah hingga di Madinah. Berdasarkan waktu yang diturunkan itulah, Nabi Muhammad SAW menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang timbul pada waktu itu. Namun ada kalanya timbul persoalan hukum dalam masyarakat yang cara penyelesaiannya belum terdapat di dalam al-Qur’an. Dalam keadaan demikian, maka Nabi Muhammad SAW menyelesaikannya dengan memakai ijtihad. Ijtihad yang dibuat Nabi, diturunkan kepada generasi-generasiselanjutnya melalui sunnah atau tradisi Nabi yang selanjutnya disebut hadis. Dengan demikian sumber hukum yang terdapat pada zaman Nabi adalah al-Qur’an dan sunnah Nabi.

Kedua, ilmu fikih pada zaman Khulafaur Rasyidin atau sahabat. Pada periode sahabat, persoalan yang diselesaikan makin luas dan berkurang. Guna menyelesaikan persoalan hukum yang demikian berat, luas dan baru itu, para sahabat mempergunakan al-Qur’an dan al-sunnah sebagai rujukan utama. Untuk menyelesaikan persoalan yang tidak dijumpai dalam kedua sumber tersebut, maka Khalifah dan apara  sahabat mengadakan ijtihad pula. Maka untuk menguatkan hasil ijtihadnya itu dipakailah jima, atau konsensus sahabat. Para sahabat ini selanjutnya memiliki murid-murid dari kalangan Tabi’in, dan seterusnya Tabi’in ini juga memiliki murid-murid pula. Di Madinah, pemuka-pemuka dari golongan Tabi’in yang terkenal ialah fuqaha (ahli hukum) yang tujuh, seperti Said Ibn Musayyab, ‘Urwah Ibn al-Zubair dab Qasim Ibn Muhammad.

Ketiga, ilmu fikih dan ushul fikih pada periode Umayyah dan Abbasiyah, atau yang disebut periode ijtihad. Pada periode ini persoalan hukum semakin bertambah kompleks dan luas. Hal ini terjadi selain karena wilayah Islam semakin luas hingga ke Afrika, Spanyol, Asia Tengah dan lain-lain, juga karena perkembangan ilmu agama, ilmu umum, kebudayaan dan peradaban makin berkembang pula. Untuk mengatasi keadaan ini, para ulama makin meningkatkan ijtihad-nya dengan berdasarkan pada al-Qur’an, sunnah Nabi dan sunnah sahabat. Pada periode inilah lahir para ahli  hukum mujtahid yang selanjutnya dikenal sebagai imam atau faqih (jamaknya fukaha) dalam islam. Di Mekkah yang terkenal adalah Ikrimah dan Mujahid yang memiliki murid diantaranya Sufyan Ibn Uyaynah dan Muslim Ibn Khalid, dimana imam Syafi’I sewaktu berada di Mekkah pernah belajar kepada mereka.

Dari beberapa penjelasan di atas, maka kita akan menemukan bahwa fikih dalam prakteknya sudah ada sejak zaman Rasulullah saw. Adapun fikih sebagai ilmu berkembang setelah Rasulullah dan masa sahabat, tepatnya pada masa umayyah dan abbasiyah.

You May Also Like

About the Author: agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *