Syariah dan Fikih Islam

Sebagian besar umat islam beranggapan bahwa syariat dan fikih adalah sesuatu hal yang sama. Anggapan seperti ini bisa saja timbul karena memang hampir seluruh keseharian umat islam sendiri adalah amalan-amalan yang diatur dalam kajian fikih islam. Bahkan dalam fakultas hukum di beberapa universitas Arab banyak yang beranggapan bahwa syariat dan fikih adalah istilah yang sama. Padahal setelah dikaji lebih mendalam, keduanya adalah sesuatu yang berbeda.

Muhammad Ali At-Tahanawi dalam buku Kasysyaf Ishtilahat Al-Funun menjelaskan bahwa syariat adalah segala sesuatu yang disyariatkan Allah untuk hamba-Nya yang berupa hukum yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, baik itu berkaitan dengan tata cara perbuatan dan disebut dengan far’iyyah (cabang) dan amaliayah (tindakan) yang kemudian disusunlah ilmu fikih, atau yang berkaitan dengan tata cara keyakinan (I’tiqadiyah) yang kemudian disusun ilmu kalam. Syariat disebut juga dengan istilah din dan millah (agama). 1

Adapun fikih menurut Sayyid Syarif Al-Jurjani dalam kitabnya At-Ta’rifat menjelaskan bahwa fikih secara bahasa adalah memahami tujuan perkataan si pembicara. Sedangkan menurut istilah, fikih diartikan sebagai ilmu tentang hukum syariat yang bersifat amaliyah yang diambil dari dalil terperinci.  Ia merupakan ilmu dari hasil pemikiran ijtihad, serta membutuhkan analisa dan penalaran.2

Al-Amidi memberikan definisi fiqh yang berbeda dengan difinisi diatas, yaitu: “Ilmu tentang seperangkat hukum-hukum syara’ yang bersifat furu’iyah yang berhasil didapatkan melalui penalaran atau istidlal”. Kata “furu’iyah” dalam definisi al-Amidi ini menjelaskan bahwa ilmu tentang dalil dan macam-macamnya sebagai hujjah, bukanlah fiqh menurut artian ahli ushul, sekalipun yang diketahui itu adalah hukum yang bersifat nazhari. Penggunaan kata “penalaran” dan “iatidlal” (yang sama maksudnya dengan “digali”) menurut istilah Ibnu Subki atas memberikan penjelasan bahwa fiqh itu adalah hasil penalaran dan istidlal. Ilmu yang diperoleh bukan dengan cara seperti itu- seperti ilmu Nabi tentang apa yang diketahuinya dengan perantaraan wahyu-tidak disebut fiqh.3

Dari beberapa pengertian diatas dapat diperoleh gambaran bahwa cakupan syariah lebih luas dibandingkan dengan fikih. Bahkan fikih adalah bagian cabang dari syariah. Syariah mencakup ilmu qalam, ilmu fikih, dan akhlaq.

agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *