Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian, 3 Alasan Kenapa Seseorang Menulis

“Jika kamu bukan anak raja atau anak ulama besar maka menulislah”.

Demikian yang disampaikan oleh Imam Al-Gazali seorang ulama ilmu kalam yang masyhur dalam madzhab syafi’i pada zamannya. Dia dilahirkan di tahun 1058 M, rentang waktu yang sangat jauh dari generasi abad 21 saat ini. Namun, sampai saat ini Al-Ghazali seakan-akan masih terus hidup melalui kitab yang ditulisnya Ihya Ulumuddin dan juga kitab-kitab lainnya.

Adalah benar apa yang diungkapkan oleh Pak Pram (Pramoedya Ananta Toer) seorang sastrawan ternama Indonesia. Ia mengatakan “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Sebagaimana Al-Gazali dan juga penulis-penulis lainnya. Mereka tidak hanya hidup pada zamannya, tetapi mereka akan tetap hidup melalui pemikiran-pemikiran yang ditulisnya hingga akhir kehidupan manusia. Bahkan tidak sampai disitu saja, apa yang telah ditulisnya dan menjadikan pembacanya menjadi baik, buah dari tulisannya akan didapat sebagai amal ibadah yang menemaninya di kehidupan akhirat yang kekal nan abadi.

Kata Mba Helvy (helvy Tiana Rosa) “Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi”

“Proses menulis yang paling penting adalah pertanyaan besar yang harus dijawab yaitu kenapa ingin menulis?

Demikian yang disampaikan A Fuadi penulis buku bestseller negeri 5 Menara. Sejak awal pertanyaan yang memang sudah selasai terjawab bagi seorang penulis adalah kenapa ingin menulis. Pertanyaan ini adalah pertanyaan tentang niat kenapa kita menulis. Apa motivasi kita menulis.

Segala sesuatunya memang bermula dari niat, Allah akan membalas apa yang diniatkan. “innamal a’malu binniat”.

Begitu juga dengan menulis. Ada yang menulis karena hanya sekedar hobi. Dengan menulis dia merasa senang dan bahagia, meskipun tulisannya hanya dia sendiri yang menikmatinya. Tulisannya ditulis dalam buku diary.

Orang menulis, karena ingin terkenal dan mendapatkan uang. Buku-buku yang ditulisnya dijejeran buku bestseller di toko-toko buku. Tulisannya banyak dinikmati oleh pembaca. Bahkan sampai difilmkan dan dinikmati dilayar-layar televisi.

Ada juga yang menulis karena niatan untuk berdakwah melalui tulisan. Melalui tulisan dia menebar kebaikan dengan menuliskan ajaran-ajaran agama ataupun hal yang bermanfaat lainnya.

Kata Sayyid Qutb, peluru hanya bisa menembus kepala satu orang, sedang tulisan bisa menembus kepala banyak orang. Melalui tulisan kita bisa menyampaikan kebaikan, ide kepada banyak orang.

Ada banyak motif atau niat yang bisa muncul. Dan semuanya itu adalah hal yang baik. Semuanya kembali kepada diri masing-masing penulis. Secara pribadi saya menulis dengan niatan untuk memberikan kemanfaatan kepada banyak orang. Abadi bersama kemanfaatan itu. Semoga kelak melalui tulisan-tulisan saya, orang-orang bisa berinteraksi dengan saya, sebagaimana Imam Al-Gazali, Aristoteles, Plato, Mas Pram, dan juga penulis-penulis yang lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

agus

2 thoughts on “Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian, 3 Alasan Kenapa Seseorang Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *