Dalam Dekapan Ukhuwah

إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ  وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian,  dan bertakwalah kalian  kepada Allah supaya kalian  mendapatkan rahmat.” (QS al-Hujurat :10).

Ayat ini mengabarkan kepada kita bahwa antara mukmin yang satu dengan mukmin yang lainnya itu bersaudara. Ayat ini memberitahu kita bahwa selain saudara biologis kita juga memiliki saudara ideologis. Ya… saudara ideologis, kita bersaudara karena kita seiman. Ikatan persaudaraan yang melintasi batas ruang dan waktu serta sekat-sekat biologis.

Ikatan persaudaraan antar-mukmin dalam ayat ini digambarkan oleh Allah dengan kata ikhwah. Musthofa al-Maroghi menyatakan dalam tafsirnya bahwa ikhwah berarti persaudaraan senasab,  ayahnya adalah Islam dan ibunya adalah iman. Mereka bersaudara sekandung, dari rahim iman. “Kata ini,” tulis al-Maroghi “Lebih kuat dari kata ikhwan yang bermakna persaudaraan dalam persahabatan.”

Kita bersyukur atas nikmat ukhuwah yang teramat mahal untuk dinilai dengan materi.

“… Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka…” (Qs. al-Anfaal : 63)

Dalam dekapan ukhuwah,

Hati saling bertaut  atas dasar saling mencintai karena Allah. Cinta yang ditanam diladang hati yang suci bersih, disiram dan dipupuk dengan akhlak yang terpuji.

Adalah sahabat Abdullah bin Amr bin Ash, dalam hadist yang diriwayatkan Anas bin Malik bahwa dia Amr bin Ash menginap dirumah seorang sahabat yang kata Rasulullah seorang ahli surga. Selama tiga hari menginap dirumah sahabat, Amr bin Ash tidak mendapati amalan yang istimewa sang sahabat. Amr bin Ash yang karena penasaran tentang amalan apa yang membuat sahabat ini menjadi seorang penghuni surga, bertanya kepada sahabat. Dan ternyata sahabat tidak memiliki amalan yang istimewa, kecuali kebiasaan sahabat itu sebelum tidurnya memaafkan seluruh kesalahan-kesalahan saudara-saudaranya.

Salamatus sadr, berlapang hati memaafkan kesalahan orang lain adalah tingkatan ukhuwah yang paling bawah puncaknya adalah itsar (merasa saudaranya lah yang lebih utama).

Semua berawal dari hati. Hati yang bersih akan melahirkan pikiran yang positif dan akhlak yang mulia.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Dalam dekapan ukhuwah,

Raga saling berpeluk, mendekap asa dan rasa, bahu membahu memikul beban atas dasar keridhaan Allah swt. 

مَثَلُ الْمُؤْ مِنِينَ فِى تَوَ ادَّهِمْ وَ تَرَاحُمِهِمْ وَ تَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌتَدَاعَى لَهُ سَا ئِرُ ا لْجَسَدِ بِا لسَّهَرِ وَا لْحُمَّى

  “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad, jika salah satu anggotanya menderita sakit, maka seluruh jasad juga merasakan (penderitaannya) dengan tidak bisa tidur dan merasa panas.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Orang-orang yang bersaudara adalah mereka yang saling membantu meringankan beban saudaranya. Bukan orang-orang yang memberi beban apalagi menjadi beban bagi saudaranya yang lain.

Orang-orang yang bersaudara adalah mereka yang saling memberi melintas batas geografis karena rasa solidaritas keimanan dan kemanusiaan.

“Orang yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa jalla adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kesenangan yang diberikan kepada sesama muslim, menghilangkan kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama salah seorang saudaraku untuk menunaikan keperluannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf dimasjid ini (Masjid Nabawi) sebulan lamanya. Barangsiapa berjalan bersama salah seorang saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sampai selesai, maka Allah akan meneguhkan tapak kakinya pada hari ketika semua tapak kaki tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal sebagaimana cuka yang merusak madu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dengan sanad hasan)

Tercatatlah kisah dalam perang Yarmuk. Tersebutlah nama Al-Harits bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dan Ikrimah bin Abu Jahal. Dalam keadaan sekarat mereka saling mendahulukan saudaranya untuk diberi air, hingga pada akhirnya mereka syahid tanpa seorangpun yang meminum airnya.

Ta’aruf, tafahum, ta’awun, takaful dan itsar adalah lima rukun berukhuwah, maka amalkanlah.

Dalam dekapan ukhuwah,

Doa-doa  atas kebaikan saudaranya berkejaran menuju memenuhi Singgasana Arsy untuk di ijabah.

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ

‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan.

Orang-orang yang bersaudara diantara ciri ketulusan ukhuwahnya adalah mereka tak henti-hentinya mendoakan kebaikan untuk saudaranya.

Mari mengambil hikmah dari kitabullah, alqur’anul kariim. Doa-doa yang dipanjatkan adalah doa dengan nuansa ukhuwah. Sebutlah doa yang dipanjatkan Nabiullah Adam as, doa memohon ampunan untuk muslim, mukmin, ataukah doa memohon kebahagian dunia dan akhirat dengan lafadz jamak.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan
keindahan bertawakkal kepadaMu.
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu.
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

You May Also Like

About the Author: agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *