Harapan Teknologi Informasi dan Cerita tentang Petani di Desaku

Bentengleo, adalah nama desa yang terletak dibagian selatan Kabupaten Sidrap Provinsi Sulawesi Selatan. Desa yang sunyi dari hiruk pikuk manusia, kecuali petani yang setiap hari mondar mandir ke sawah. Memang tak banyak yang menghuni desa ini, yang ada adalah hamparan sawah dan beberapa rumah petani yang bisa dihitung jari. Saya termasuk anak yang lahir di desa ini, tumbuh dan berkembang dalam keluarga petani.

Melalui petani saya belajar Indonesia di desa ini. Bagi saya cerita tentang petani, adalah cerita tentang Indonesia. Bukan karena Indonesia negara agraris, tapi karena karakter orang Indonesia yang saya temukan melekat kuat pada petani.

Belajar dari petani maka kita akan belajar orang-orang Indonesia yang tekun. Mereka  bangun sebelum subuh dan di pagi buta kita menemuinya sudah berdiri bersama cangkulnya di tengah sawah.

Belajar dari petani, adalah belajar tentang orang-orang Indonesia yang ulet dan pekerja keras. Dalam satu periode masa tanam hingga panen, kita bisa membayangkan berapa tahap pengerjaan hingga sawah bisa ditanami padi sampai padi itu bisa dipanen. Mulai dari membajak, menyemai dan menanm benih, memupuk, mengairi, hingga padi berbuah dan siap dipanen. Bukankah itu proses yang membutuhkan keuletan dan kerja keras ?.

Tekun, ulet, dan pekerja keras, itulah kita Indonesia.

selfie-ala-petani

(foto dari website indomeme.com)

Di desa saya, banyak hal yang bisa kita pelajari dari petani, kecuali satu yaitu sampai saat ini kita tidak menemukan seorang petani yang selfie dengan smartphone ditegah sawah. Di desa saya, ketekunan, keuletan, dan kerja keras petani belum bisa hidup berdampingan dengan kecanggihan teknologi informasi. Petani mengolah sawah berdasar pengalaman yang mereka punya. Mereka belum bisa bertanya ke syekh Google tentang bibit padi yang unggul, pupuk oganik yang baik, cara merawat padi, sampai pada pengolahan limbah dari padi. Ada yang berhasil, tapi mereka tidak bisa membagikan pengalaman mereka melalui media sosial seperti layaknya orang-orang yang melek teknologi di kota.

Ketekunan, keuletan, dan kerja keras mereka terkadang tidak berbalas dengan harga jual gabah. Hari ini dibeli murah besok tiba-tiba harga gabah naik dan mereka tidak tahu karena informasi yang tidak sampai kepada mereka.

Belajar dari pemanfaatan teknologi informasi pada sektor pertanian, di Malaysia telah dikembangkan Rice Irrigation Management System (RIMS) yang dengan dukungan teknologi Geographic Information System (GIS) untuk melakukan efisiensi penggunaan air dan peningkatan produktifitas pertanian.

Kemajuan teknologi dan informasi serta pemanfaatannya untuk membangun Indonesia melalui sektor pertanian adalah langkah yang sangat strategis. Pemerintah harus membuat kebijakan yang jelas tekait electronic Agriculture (e-Agriculture), pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pertanian juga electronic Agribusiness (e-Agribusiness) untuk membangun bisnis di bidang partanian.

Teknologi informasi hendaknya bukan menjadi barang mewah bagi petani kita. Bukan hanya dimiliki oleh para peneliti pertanian ataukah pelaku bisnis pertanian saja. Kita harus mendorong petani kita untuk melek dengan teknologi. Begitu juga dengan akses jaringan internet, ada di desa-desa tetapi hanya dinikmati segelintir orang karena untuk menikmatinya harus mengeluarkan biaya yang mahal.

Oleh karena itu, sangat diperlukan kehadiran perusahaan provider dengan menyediakan koneksi internet yang cepat dan terjangkau petani, baik jaringan maupun harga. Dengan kehadiran teknologi informasi serta koneksi internet yang cepat dan terjangkau saya merindukan di desa saya petani XLangkah lebih maju untuk membangun Indonesia.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *