Kiat Mendapatkan Cinta Allah

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, menuliskan dalam buku Ad-da wa Ad Dawa enam tingkatan cinta seseorang.

  1. Intifa, cinta pada keinginan pemanfaatan kepada harta benda
  2. ‘Ithf, cinta karena aspek kemanusiaan
  3. Shababah, cinta karena sesama muslim
  4. Syauq , cinta seorang mukmin dengan mukmin dalam lingkup kekerabatan keluarga
  5. ‘Isyk, cinta kepada Rasulullah saw
  6. Tatayyum , cinta kepada Allah swt

Ketika kita ditanya, Apakah kita mencitai Allah?

Tentu jawaban yang kita beri adalah, Ya Saya mencintai Allah.

Tetapi, ketika kita ditanya kembali “Apakah Allah mencintai kita”?

Tentu jawabannya, kita tidak tahu pasti apakah kita termasuk orang yang dicintai Allah. Yang ada adalah kita berupaya menengok kedalam diri, mengukur, apakah kriteria-kriteria yang membuat Allah cinta kepada kita itu ada didalam diri kita.

Orang yang mencintai tentu saja setia dengan apa yang apa yang dicintainya. Oleh karena itu, ketika kita mencintai Allah, maka mari kita mengukur kemurnian tauhid kita.

Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2]: 165)

Hubungan cinta akan pudar jika ada pihak ketiga dalam hubungan cinta itu. Maka dalam mencintai Allah sama sekali tidak boleh hadir sesembahan yang lain selain Allah. Tidak boleh muncul rasa cinta, melebihi rasa cinta kepada Allah.

“ Katakanlah (Muhammad) “Dia lah Allah yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Nya” (QS. Al-Ikhlas 1-4).

“Katakanlah “Aku berlindung kepada Tuhannya Manusia, Raja Manusia, Sembahan Manusia” (QS. An-Nas 1-3).

Orang yang mencitai tentu saja memiliki kedekatan kepada yang dicintainya. Oleh karena itu, ketika kita mengaku mencintai  Allah, maka mari kita mengukur seberapa dekat kita dengan Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al Maidah 35)

Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu lengan, dan barang siapa mendekat kepada-Ku satu lengan maka Aku akan mendekat kepadanya dua lengan, dan jika ia menghadap kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan menemuinya dengan berlari,” (H.R. Bukhari Muslim)

Lalu bagaimana cara kita mendekatkan diri kepada Allah..?

Hadis ke 38 dalam hadist arba’in, Imam Nawawi merangkumnya bahwa menjalankan kewajiban dan menghidupkan sunnah adalah jalan untuk mendapatkan cinta Allah.

“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada ia mengerjakan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku (setelah menjalankan yang wajib) dengan amal-amal sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Al-Bukhari)

Jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan membangun kedekatan kepada hamba-hambanya. Terutama hamba-hamba yang shalih.

“Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling berguna di antara manusia. Dan perbuatan yang paling dicintai oleh Allah adalah kegembiraan yang diberikan ke dalam diri orang muslim atau menghilangkan kegelisahan dari diri mereka, membayar utang atau bebannya dan menghilangkan rasa lapar mereka. Dan, sesungguhnya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi hajatnya adalah lebih aku senangi daripada beriktikaf di masjid selama satu bulan.” (HR Thabrani)

Orang yang mencintai tentu saja kuat tekadnya untuk ingin selalu menyebut nama dan selalu ingin bersama berdua dengan yang dicintainya. Maka jika kita mencintai Allah, maka mari kita menghitung berapa lama waktu yang digunakan untuk berdua bermesra dengan Allah.  

Membaca Al-Qur’an, berdzikir adalah jalan untuk banyak menyebut nama Allah, sedang tahajjud adalah jalan untuk berdua bermesra dengan Allah.

******

Seorang sahabat bertanya tentang hari kiamat kepada Rasulullah. Beliau balik bertanya “Apa yang engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak bersiap-siap untuk menghadapinya dengan banyaknya shalat dan puasa, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya”.

Lalu Rasulullah bersabda, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya, dan engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”.(HR. Bukhari dan Muslim)

 

You May Also Like

About the Author: agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *