Berperang demi Tuhan, Fundamentalis ada pada semua Agama

Karen Amstrong (2013) dalam pengantar bukunya “berperang demi Tuhan” menerankan bahwa  salah satu perkembangan pada akhir abad ke dua puluh adalah munculnya disetiap tradisi agama besar sebuah kesalehan militant yang secara populer disebut “fundamentalisme”.

Kaum fundamentalis Yahudi menaati Hukum mereka yang diwahyukan itu secara lebih ketat daripada sebelumnya. Kaum wanita Muslim, sambil menyangkal kebebasan-kebebasan wanita Barat, menutupi tubuh mereka dengan kerudung dan cadar.  Kaum fundamentalis Kristen menolak temuan-temuan biologi dan fisika mengenai asal-usul kehidupan dan bersikeras bahwa Kitab Kejadian itu benar secara ilmiah dalam segala detailnya.

Lebih jauh lagi, Karen Amstrong mengungkapkan bahwa fundamentalisme tak terbatas pada agama-agama monoteis besar saja. Ada pula fundamentalisme Buddha, Hindu, dan bahkan Konghucu. Mereka berperang dan membunuh atasnama agama dan berusaha membawa ‘yang kudus’ kedalam wilayah politik dan pergulatan nasional.

Karya ilmiah (read: buku) Karen Amstrong menjadi sanggahan pada stigma dan persepsi bahwa “tindakan teroris hanya bersumber dari fundamentalis Islam”. Secara ilmiah dapat juga dilihat bahwa fundamentalis itu ada pada semua agama, dan hal ini berarti peluang munculnya teroris dari semua agama itu sama.

Adapun motif fundamentalis menurut Martin E. Marty dan R. Scott Appleby mengatakan bahwa semua fundamentalisme mengikuti pola tertentu. Mereka adalah bentuk-bentuk spiritualitas yang diperkuat, muncul sebagai tanggapan terhadap sebuah krisis yang dirasakan. Mereka terlibat dalam konflik dengan musuh yang keyakinan dan kebijakan sekulernya tampak bermusuhan dengan agama itu sendiri. Kaum fundamentalis tidak menganggap pertempuran ini sebagai perjuangan politik konvensional. Mereka mengalaminya sebagai perang kosmis antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.

 

 

You May Also Like

About the Author: agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *