Jangan Lupa Bahagia!

Jangan lupa bahagia!

Adakah orang yang lupa bahagia? Mungkin yang dimaksudkan adalah di dunia ada sebagian orang yang belum merasakan kebahagiaan. Ataukah mungkin pesan ini ditujukan untuk orang-orang tertentu dengan tendensi tertentu pula. Ah sudahlah! Bisa banyak tafsirannya.

Usut punya usut memang setiap orang punya keinginan untuk bahagia. Sampai-sampai ada cara untuk mengukur indeks kebahagiaan. Biro Pusat Statistik (2015) merilis indeks kebahagiaan masyarakat Indonesia tahun 2014 naik menjadi 68,28%. Pada 2013 indeks kebahagiaan masyarakat Indonesia hanya 65,11% (naik 3,17%).

Indeks kebahagiaan adalah indeks komposit yang disusun dari tingkat kepuasan masyarakat terhadap 10 aspek kondisi kehidupan esensial: kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, rumah dan aset, lingkungan, serta keamanan. Dan nyatanya indeks kebahagiaan naik berbanding lurus dengan bertambahnya penghasilan.

Apakah anda bahagia…?

Pertanyaan ini ketika ditanyakan kesetiap orang maka jawabannya akan berbeda-beda. Motif bahagiapun bisa bermacam-macam. Ada karena keluarga, penghasilan, pangkat, sampai pada motif ideologis sekalipun. Pendapat Aristoteles menegaskan kondisi di atas, bahwa bahagia bukanlah perolehan untuk manusia, tetapi corak bahagia itu berlainan dan beragam menurut corak dan ragam orang yang mencarinya. Kadang-kadang sesuatu yang dipandang bahagia oleh seseorang, belum tentu sama dengan orang lain. Oleh karena itu, menurutnya bahagia ialah suatu kesenangan yang dicapai oleh setiap orang menurut kehendak masing-masing.

Hal berbeda dari sudut pandang Leo Tolstoy, seorang pujangga dari Rusia. Tolstoy berpandangan bahwa bahagia itu kalau bersama orang lain. Kebahagiaan yang diperuntuhkan untuk diri sendiri adalah mustahil, kebahagiaan ada jika diperuntuhkan untuk dinikmati bersama. Kiranya ini menggambarkan kebahagiaan seorang Ayah yang membanting tulang untuk mencari nafkah untuk istri dan anaknya.

Jika demikian halnya, maka semua orang bisa merasakan bahagia meskipun dengan derajat yang berbeda-beda.

Dalam islam, ketika Aisyah r.a bertanya kepada Rasulullah Muhammad saw, “Ya Rasulullah, dengan apakah berkelebihan setengah manusia dari yang setengahnya?”

Rasulullah menjawab, “dengan akal”…

Segala persepsi tentang bahagia akan sangat tergantung pada tingkatan pandangan manusia tentang bahagia itu. Dan tentunnya pandangan ini akan sangat ditentukan oleh tingkatan pendapat akal. Bertambah lua akal, bertambah luaslah hidup, maka bertambahlah kebahagiaan.

Menurut Hamka, oleh agama perjalanan bahagia itu telah diberi batas. Puncaknya adalah kenal akan Tuhan, baik ma’rifat kepada-Nya, baik taat kepada-Nya, dan baik sabar atas musibah-Nya.

Bahagia memang pada dasarnya kita yang rasa, tetapi munculnya kebahagiaan itu bisa jadi dari orang lain. Makanya jangan lupa bahagia!.

 

You May Also Like

About the Author: agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *