Pasar Digital dan UKM Kreatif

John Maynard Keynes seorang ekonom abad 20 menuliskan sebuah gambaran kehidupan ekonomi di London. Keynes menuliskan bahwa“ betapa mengagumkannya kemajuan ekonomi yang dicapai umat manusia. Penduduk London dapat memesan lewat telepon, sambil minum kopi di pagi hari di atas ranjangnya, segala macam produk yang ada di bumi, dalam jumlah berapa pun yang didinginkannya, dan diantarkan ke depan pintu rumahnya dalam waktu yang diinginkannya”

Globalisasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekejap merubah pola interaksi ekonomi. Apa yang dituliskan Keynes sebelum terjadinya perang dunia pertama adalah situasi kehidupan ekonomi yang sedang kita alami saat ini. Pasar telah berpindah ke setiap rumah-rumah. Ada migrasi dari pasar nyata (pasar dengan bangunan fisik) menuju pasar virtual. Seseorang dengan mudahnya mendapatkan barang yang diinginkannya tanpa harus meninggalkan rumahnya. Hanya dengan modal koneksi internet dan perangkat teknologi smartphone ataupun komputer, Seseorang akan dengan bebasnya berselancar menjelajahi pasar-pasar virtual untuk mencari barang kebutuhannya sambil bersantai ataupun mengerjakan hal yang lain.

Betapa kehidupan setiap orang menjadi semakin efektif dan efisien. Kehidupan yang seperti ini akan terus mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini dua variable yang sangat berpengaruh, yaitu internet dan teknologi (smartphone). Dalam skala Indonesia sendiri, hasil riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (PUSKAKOM) UI mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia akhir tahun 2014 sebanyak 88 juta orang atau 34,9 % dari total penduduk Indonesia. Perangkat yang dugunakan untuk mengakses 85 % adalah smartphone.

Tentu saja perkembangan ini membawa tantangan tersendiri bagi para pelaku ekonomi, khususnya bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Riset Access Global Economi yang diungkapkan Jason Tedjasekmana sebagai Head of Corporate Communication Google (2016), mencatat bahwa, 36 persen UKM Indonesia masih berpola offline, 37 persen menggunakan kemampuan online paling dasar, 18 persen memilki kemampuan online kelas menengah, dan baru 9 persen yang memilki kemampuan bisnis online lanjutan.

Statistik Indonesia menunjukkan perkembangan jumlah konsumen online di Indonesia semakin meningkat. Pada 2016, riset dari eMarketer memperkirakan akan mencapai 8,6 juta orang yang berbelanja melalui internet. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 7,9 juta orang. Dengan bertambahnya jumlah penduduk yang mengenal internet seiring lahirnya generasi Z (Gen Z) yang lahir di era digital membuat kebiasaan belanja barang dan jasa yang sebelumnya secara konvensional akan beralih menjadi online. ( http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/11/15/2016-sebanyak-86-juta-orang-melakukan-transaksi-online )

Data statistik dalam studi bertajuk ‘The Microsoft Asia Digital Transformation: Enabling The Intelligent Enterprise, sebanyak 90 persen pebisnis di Indonesia menyatakan perlu melakukan transformasi digital untuk mendorong pertumbuhan perusahaan.

Namun sayangnya belum banyak yang memiliki strategi transformasi digital secara khusus. Hanya 27 persen pengusaha yang telah memiliki strategi secara menyeluruh. Mayoritas masih merencanakan dan sisanya bahkan belum memiliki strategi apapun.

(http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/03/06/seberapa-siap-pengusaha-indonesia-dengan-transformasi-digital)

Kedepan, UKM akan menghadapi tantangan yang kompleks. Oleh karena itu, bagi para pelaku UKM sangat diperlukan kemampuan adaptasi yang cepat agar usahanya tidak sampai gulung tikar.

UKM Kreatif

Tidak cukup menjadi UKM, harus ada evolusi menjadi UKMK (Usaha Kecil Menengah Kreatif). Diantara ciri UKM Kreatif adalah mampu menguasai teknologi yang sedang berkembang. Maka dari itu, proses pembelajaran yang cepat sangat dibutuhkan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang lagi trend. Semakin cepat proses belajarnya maka skill untuk menggunakan dan memanfaatkan teknologi juga akan cepat dikuasai.

Semua pelaku ekonomi baik UKM ataupun Industri besar pada dasarnya mampu melakukan adaptasi teknologi. Oleh karena itu, ciri UKM Kreatif yang kedua adalah kemampuan mencari “pembeda” yang akan menjadi ciri khas bagi UKM tesebut. Dalam proses mendapatkan pembeda itulah dibutuhkan ide kreatif. Ide-ide kreatif dapat dilakukan pada produk, cara marketing , pemanfaatan sumber daya local, sampai pada nilai yang diberikan UKM kepada konsumen.

Ciri UKM Kreatif yang ketiga adalah Originalitas, adalah kemampuan untuk menciptakan hal-hal yang baru. Oleh karena itu diperlukan adanya penelitian dan pengembangan yang dilakukan setiap UKM meskipun dalam skala kecil.

UKM Kreatif dengan cirinya akan terus mampu untuk beradaptasi dengan perkembangan yang ada. Dan pada dasarnya saat ini pasar sedang bergerak pada industri ide-ide kreatif bukan sekedar industri produk.

 

Be Sociable, Share!

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *