Islam dan Tajdid

Ternyata latar belakang penangggalan Hijriah adalah persoalan yang sepele. Adalah Abu Musa Al-Asy-‘Ari radhiyahullahu’anhu sebagai gubernur Basrah kala itu, mengeluhkan surat dari Amirulmu’minin Umar Bin Khattab yang tidak mencamtumkan tanggal dan tahun. Pada akhirnya disepakatilah dalam musyawarah usulan Ali Bin Abi Thalib penanggalan Hijriah didasarkan pada peristiwa Hijriah Rasulullah.

Perihal penanggalan hanyalah satu diantara banyak hal yang berkembang sangat cepat dan dinamis setelah Rasulullah wafat. Terlebih lagi kondisi zaman kita sekarang.

Lalu bagaimana umat Islam menyelesaikan persoalan kehidupan yang mereka dapatkan?

Jawabnya dengan Al-Qur’an dan Hadist, Iqbal menyebutnya dengan prinsip-prinsip abadi. Prinsip ini tidak akan berubah sampai kapanpun. Namun disisi-sisi yang lain Iqbal juga menyebutkan prinsip gerak yang menjadi instrument bagi seorang muslim dalam memutuskan hukum atas persoalan yang dihadapi. Prinsip gerak itulah yang dikenal dengan ‘ijtihad’.

Pemaknaan Hijrah yang menjadi patokan awal permulaan penanggalan hijriah perlu kita maknai sebagai tranformasi gerakan dakwah Islam yang menegara.

Anis Matta dalam bukunya “Dialog Peradaban” menuturkan bahwa dengan Hijrah maka lengkap sudahlah syarat institusi negara berdiri yaitu manusia, tanah, dan sistem.

Dalam konteks saat ini umat Islam perlu melakukan tajdid dalam transformasi gerakan yang menegara. Ijtihad-ijtihad oleh para mujaddid dalam menarasikan sistem Islam ketengah-tengah masyarakat sangat dibutuhkan. Dengan demikian Islam Akan hidup ditengah-tengah ummat, bukan hanya dinikmati oleh sekelompok Abid saja.

You May Also Like

About the Author: agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *