PINISI BAGI NEGERI (Sinergi untuk Edukasi dan Ekologi Negeri Maritim)

Pagi itu kota Makassar diguyur hujan lebat ditambah angin bertiup cukup kencang. Orang akan berpikir dua kali untuk keluar rumah. Pantai Losari saat itu sepi, tidak seperti biasanya ramai yang dikunjungi masyarakat. Di dermaga Pantai tampak dari kejauhan dua tiang kokoh dengan rangkaian tali yang rapi membentuk segitiga. Dari jarak dekat ternyata tiang-tiang itu adalah bagian Pinisi tempat membentangkan tujuh layar berwarna cokelat kemerahan. Tujuh layar inilah yang menjadi salah satu syarat mengapa kapal ini dinamakan Pinisi.

Pinisi merupakan kapal yang legendaris. Tanggal 7 Desember 2017 di Jeju Island, Korea Selatan, Pinisi pendapatkan pengakuan dunia internasional dan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Satu kebanggaan tersendiri bagi “Panrita Lopi” di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kemampuannya dalam merakit Pinisi mendapat pengakuan dunia.

Tahun ini (2017) adalah tahun ketiga hadirnya Pinisi di Makassar. Dalam kunjungan yang kedua kalinya di Pinisi, tampak wisatawan ataupun warga yang berkunjung di Pantai Losari antri untuk berfoto dengan latar kapal legendaris ini. Mereka mencari spot untuk mendapatkan gambar yang pas dengan kamera ataupun smartphone.

Di antara warga yang berkunjung tak banyak yang tahu bagaimana cerita dibalik kehadiran Pinisi ini. Sekedar untuk bertanya mengapa baru dua tahun terakhir Pinisi hadir di Makassar, pun hampir tak ada.

Pinisi yang bersandar di dermaga Pantai Losari tak ujug-ujug ada. Cerita tentang hadirnya kapal legendaris itu bukan cerita legenda. Dibalik itu ada cerita tentang asa, perjuangan, dan kolaborasi Pemuda Makassar, Pemerintah Kota Makassar, dan Astra yang jika dirangkai akan menjadi INSPIRASI BAGI NEGERI.

Merajut Asa

“Jadi idenya simpel ji” dengan dialek Makassar, Fahril, salah satu crew Pinisi mulai bercerita. “Ada keresahan pada waktu itu, sekitar tahun 2014. Pinisi yang merupakan warisan budaya dan icon Bugis Makassar pada kenyataannya sebagian besar milik orang asing. Kita sendiri tidak punya” lanjut pria berambut ikal saat dijumpai di ruang kemudi Pinisi.

Ada keresahan juga sembari muncul asa oleh sekelompok pemuda makassar untuk menghadirkan Pinisi untuk masyarakat Bugis Makassar. Asa itu terus dipupuk untuk tumbuh, hingga akhirnya tahun 2014 dilaunchinglah “Pinisi Untuk Makassar”. Launching tersebut sekaligus menjadi awal pembuatan Pinisi.

Tahun 2014 menjadi tahun harapan sekaligus masa-masa perjuangan yang sulit. Dana untuk satu buah Pinisi bukan hitungan puluhan atau ratusan juta tetapi hitungan miliar. Dana menjadi tantangan maka upaya penggalangan dana mulai dilakukan, “kami mulai mengumpulkan dana dengan menyebarkan celengan di pusat perbelanjaan seperti Alfamart atau Indomart”, ungkap Fahril.

Tak semudah membalik telapak tangan, cita-cita yang besar dan mulia selalu berbanding lurus dengan tantangan dan perjuangan yang dihadapi. Pengumpulan dana dengan celengan tidak bisa memenuhi harapan tercukupinya dana. Butuh waktu yang lama, “kalau setiap orang hanya mengupulkan koin 500 perak sisa belanja, kapan dananya bisa terkumpul?” keluh Opah sapaan akrab Fahril.

“Sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai”

Semangat untuk mewujudkan lahirnya satu Pinisi tak pernah hilang. Memasuki tahun 2015 pencarian dana dilakukan dengan rencana yang lebih matang dan terorganisir. Sekelompok pemuda diawal bertransformasi dalam organisasi legal formal yaitu Yayasan Makassar Skalia. Pencarian dana terus dilakukan, secercah harapan mulai muncul kembali dengan bergabungnya donatur-donatur baru, termasuk kolaborasi dengan pemerintah kota Makassar.

Upaya yang telah dilakukan sejak pertama kali dilaunching tahun 2014 sudah mulai menampakkan hasil. Akhir tahun 2015 Pinisi telah selesai dikerjakan. Pinisi dengan tampilan sederhanapun dilaunching dengan nama “Pusaka Bagi Negeri”. “Memang dilaunching tahun 2015, tapi pinisi ini belum 100% selesai. Terutama untuk interiornya, dan yang menjadi pertanyaan penting adalah, selanjutnya apa?” kata Fahril.

Pinisi Bagi Negeri

Tak butuh waktu yang lama untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Fahril. Tahun 2016 PT. Toyota Astra-Motor hadir sebagai jawaban. Melalui program Toyota Berbagi “Call For Tree” sebagai program Corporate Social Responsibility (CSR), Astra memberi nilai lebih pada Pinisi.

“Astra harus jadi berkat bagi bangsa”

(William Soeryadjaya, Pendiri Astra)

Di Kota Anging Mammiri kembali Astra menapak jejak dalam kiprahnya enam puluh tahun mambangun negeri. Tahun 2016 dirancanglah program “Pinisi Bagi Negeri”. Program ini sekaligus menjadi wujud Catur Dharma Astra, menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Hingga akhirnya, dalam pengerjaan waktu sekitar 64 pekan Perahu Pinisi telah selesai 100%. Total keseluruhan dana dalam program Pinisi Bagi Negeri sekitar 3 Miliar. “saya tidak tahu persisnya, tapi kisaran dananya di sekitaran 3 Miliar. Penyelesaian Kapal Pinisi 2 Miliar dan 1 Miliar untuk program ekologi dan edukasi maritim” tutur Fahril.

Penelusuran berita yang dilakukan, Pinisi Bagi Negeri resmi dilaunching pada tanggal 21 April 2017 di Makassar. Dalam launching program ini dihadiri langsung oleh Vice president director PT Toyota-Astra Motor Henry Tanoto, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, dan Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto, serta Ketua Yayasan Makassar Skalia.

Edukasi dan Ekologi Maritim

Pinisi menjadi pusat edukasi maritim bagi generasi muda. Kapal ini menjadi kelas terapung sekaligus kelas pelayaran. Interior Pinisi dirancang untuk kebutuhan ruang belajar. Ada ruang di bawah dek kapal sebagai kelas Indoor sekaligus perpustakaan. Ruangannya tidak terlalu luas, kapasitas maksimal 25 orang. Meski demikian suhu ruangan tetap segar dengan interior kayu dan pendingin ruangan. Proses belajar lebih atraktif dengan adanya media audio visual di salah satu dinding kapal.

Kelas terbuka dibagian dek Pinisi menjadi tempat favorit. Belajar di atas Pinisi sambil berlayar, udara segar dan pemandangan laut yang indah, tentu menjadi pengalaman belajar tersendiri bagi peserta. “Sambil berlayar, kami memberikan edukasi tentang Pinisi, budaya menjaga lingkungan laut, dan juga ekosistem biota laut. Dengan cara belajar yang seperti ini mampu menumbuhkan nilai-nilai kemaritiman bagi peserta”.

“Hingga saat ini persentasi capaian realisasi program sekitar 90% sejak program ini dilaunching. Sebanyak 2000 orang ditargetkan mengikuti program ini. Dari target itu kami bagi dalam 85 trip yang pesertanya dari kalangan pelajar tingkat SD sampai perguruan tinggi”, terang Fahril, penanggung jawab program edukasi Pinisi Bagi Negeri.

Manusia dan alam adalah satu kesatuan. Pinisi Bagi Negeri adalah program yang menyatukan edukasi manusia dan upaya untuk merawat ekologi.

Menjelajahi Kota Daeng tak cukup hanya menyusuri spot wisata dan kuliner dalam kota. Di bagian luar Makassar ada beberapa pulau yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Pulau Samalona, pulau yang terletak sekitar 2 km di bagian barat kota Makassar. Di Pulau Samalona pengunjung akan dimanjakan dengan hamparan pasir putih, dan air laut yang jernih. Lebih dari itu keindahan biota terumbu karang bisa dinikmati di atas perahu ataupun snorkeling.

Menurut Fahril, ada ancaman yang mengintai keindahan Pulau Samalona, yaitu sedimentasi di kawasan itu yang berakibat pada rusaknya terumbu karang. Maka, Pinisi Bagi Negeri hadir untuk mencegah kerusakan biota laut yang terjadi di Pulau Samalona. Program ini menjadi sangat penting karena dua hal. Pertama, karena ada ancaman kerusakan biota laut sebagai dampak dari pembagunan di pesisir pantai. Kedua, karena Pulau Samalona adalah salah satu kawasan wisata yang ada di Makassar.

Tim Makassar Skalia melalui Program Pinisi Bagi Negeri akan melakukan transpalantasi terumbu karang seluas 500 meter persegi di Pulau Samalona. Program ini menjadi berbeda dan memilki kelebihan dibanding yang lain karena programnya berkelanjutan.

Sambil memperlihatkan video transpalantasi yang dilakukan, Fahril menjelaskan, “sebenarnya transpalantasi terumbu karang bukan pertama kali dilakukan. Sudah banyak yang melakukannya. Hanya saja tidak ada perawatan dan kontrol yang berkesinambungan. Nah, yang kami lakukan dalam program ini yaitu transpalantasi dengan kontrol yang rutin dilakukan. Sehingga kita dapat memastikan pertumbuhan terumbu karang dengan baik”.

 

Lebih jauh Fahril menjelaskan bahwa hingga penghujung tahun ini, tim Pinisi Bagi Negeri terus memantau prosesnya. Keberhasilan fragmen tumbuh mencapai 80%. “Kami berharap kerjasama dengan Astra terus berlanjut tahun depan” tegas Fahril.

Sinergi dan Kolaborasi antara Yayasan Makassar Skalia, Pemerintah Kota Makassar, dan PT. Astra-Motor adalah inspirasi membangun negeri. Pinisi Bagi Negeri adalah wujud 4 Pilar SATU (Semangat Astra Terpadu Untuk) Indonesia  yang merupakan strategi pengelolaan CSR Astra.

Pinisi, edukasi pemuda, dan konservasi terumbu karang di Pulau Samalona dalam Pinisi Bagi Negeri akan menjadi kebanggaan milik bangsa.

 

 


Sumber: observasi, wawancara, kajian literatur

agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *