Sejarah Peradaban Islam : Dinasti Umayyah dalam Usia hampir 100 Tahun (40 H-132H)

(Disusun berdasar penggalan-penggalan periode 40 tahunan)

40 Tahun Generasi Pertama.

Tahun 40 H berdirilah Dinasti Umayyah  dengan  khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan yang berpusat di Damaskus, Syam (saat ini : Palestina, Lebanon, Syiria, Yordan). Era Islam dimasa awal telah berakhir dengan segala dinamika yang ada. Dalam akumulasi 40 Tahun itu masa awal islam itu, 10 tahun awal adalah era Kenabian dan 30 tahun era Kekhalifaan ( 2 Tahun Khalifah Abu Bakar, 11 Amirul mu’minin Umar Bin Khattab, 12 Tahun Khalifah Usman Bin Affan dan 4 tahun di masa Khalifah Ali Bin Abi Thalib).

40 Tahun Generasi Kedua

Dinasti Umayyah hadir mewarisi konflik dan juga wilayah yang cukup luas Syam dan Irak. Bagaimana Ia berhasil padahal Ali Bin Abi Thalib harus jatuh dalam kondisi seperti itu.

Harus diakui bahwa Muawiyah hadir untuk memimpin dalam kondisi yang sudah matang. Pengalaman 20 Tahun menjadi Gubernur di Damaskus adalah bekal yang cukup bagi dirinya.

Muawiyah yang memimpin 20 Tahun pertama Dinasti Umayyah, dan meletakkan pondasi atas keberlanjutan dinasti tersebut. Ia mengelola administrasi pemerintahan dengan rapi. Memimpin dengan sangat demokratis. Membentuk kekuatan militer yang disegani, penaklukan hingga ke Afrika, Asia, serta menyerang Konstantinopel pun dilakukan di masanya. Secara sosial Ia juga mengetahui sejarah orang-orang besar, mengetahui kejiwaan mereka dan permbangannya.  Dan mengambil intisari mereka dan melakukan hal-hal yang paling baik. Ia tahu mengangkat derajat mereka dan memberikan hak-hak mereka.

Kesemuanya itu menjadi bekal untuk memimpin umat Islam menuju peradaban baru Islam. Tamim Ansary dalam Bukunya Dari Puncak Bagdad mengungkapkan bahwa kemunculan Daulah Umayyah mengakhiri isu-isu teologis internal umat islam menjadi isu peradaban Islam.

20 Tahun di generasi kedua telah usai bersamaan dengan wafatnya Muawiyah. Yazid naik tahta menggantikan ayahnya. Yazid memerintah dimulai dengan fitnah terbunuhnya Husain, Cucu Rasulullah. Bara api konflik dengan Syiah mulai ditiupkan kembali.

Rentetan fitnah selanjutnya mulai bermunculan dalam 20 tahun kedua pada generasi kedua ini. Persaingan perebutan posisi khilafah, konflik Syam, Hijaz, dan juga Irak.  Meski dalam kondisi itu, pemerintahan tetap berjalan. Pembenahan-pembenahan yang sifatnya administratif tetap dilakukan. Bahkan agenda Arabisasi terus berlanjut. Akhir dari 20 tahun kedua ini adalah kematian Khalifah Abdul Malik Bin Marwan pada tahun 86 H.

40 Tahun Generasi Ketiga

Menurut para ahli hadits, setiap satu generasi berlangsung selama 40 tahun. 40 tahun pertama berakhir dengan kematian Ali Bin Abi Thalib, 40 tahun kedua berakhir dengan kematian Ibnu Zubair, dan sedikit setelah itu berakhirlah masa Khalifah ke lima Abdul Malik Bin Marwan.

Generasi ketiga bermula dari tahun 80 H dan berakhir sekitar tahun 120 H. Pada generasi ini kita akan menemukan rentetan pemerintahan dari Abdul Walid I Bin Abdul Malik (86H-96H), Sulaiman bin Abdul Malik (96-99H), Umar Bin Abdul Azis (99H-101H), Yazid II Bin Abdul Malik (101-105H), Hisyam Bin Abdul Malik (105-125 H).

Keadaan negara islam secara umum mulai tenang, Al Walid mulai memerintah. Ia berpikir bagaimana menjadikan Damaskus sebagai kota yang memikat sebagai Ibukota Islam sekaligus Ibukota Dunia. Mesjid adalah pilihan bangunan fisik yang menjadi pilihan Al-Walid. Di Damaskus dibangunlah masjid yang megah dengan nama Mesjid Umawi. Di luar Damaskus Ia membangun masjid Al-Aqsha di Jerussalem. Ia juga memperluas Masjid Nabawi di Madinah.

Selain itu di masa 10 tahun pemerintahannya Al Walid membangun rumah sakit. Ekspansi untuk membuka daerah-daerah baru kembali dilakukan hingga Ia wafat dan digantikan saudaranya Sulaiman Bin Abdul Malik.

Sulaiman wafat, dan atas isyarat dari seorang alim yang bernama Raja’ Bin Haiwah maka Sulaiman mewariskan kekuasaan Umar Bin Abdul Azis. Masa Umar Bin Abdul Azis adalah puncak masa keemasan islam. Suatu masa yang memadukan keadilan, kesejahteraan, kebijaksanaan, ketakwaan dan keilmuan. Umar melakukan pembenahan kebijakan dalam urusan keuangan negara. Menata kehidupan sosial muslim dan nonmuslim, juga penegakan keadilan berdasar atas penegakan hukum.

Akhir generasi ketiga ini dibawah masa kepemimpinan Hisyam Bin Abdul Malik. Orang yang sangat teratur, tegas, memiliki pandangan dan pemikiran yang jelas, dan atas permasalahan yang ditemui dipecahkan dengan studi yang lama.

Upaya perluasan daerah terus dilakukan pada masa kepemimpinannya. Memindahkan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Rashafah di dekat sungai Eufrat. Meningkatkan produksi hasil pertanian dan menambah luas lahan pertanian.

Namun menjelang tahun 120 H, 5 tahun sebelum Hisyam wafat mulai muncul “fitnah”. Konflik antara muslim arab dan non arab mulai muncul kembali. Ada penghianatan dalam pasukan perang. Kas negara mulai tidak mencukupi bagi keberlangsungan pemerintahan, hingga jizyah harus dipungut kembali.

40 Tahun keempat. 32 Tahun Dinasti Umayyah

Kekacauan dan kerusuhan pada tahun 120 H diwarisi olah Al-Walid bin Yazid. Kondisi yang kacau diwarisi oleh sosok yang mengedepankan perasaan. Diggambarkan bahwa Ia adalah penyair yang hebat, mencintai kelezatan dan kenikmatan hidup sedangkan jiwanya selalu gaduh dan tidak tenang. Kehidupan yang suka berfoya-foya terus dipertontokan, hingga pada akhirnya terbunuh oleh pasukan gabungan Qadariyah dan Ahlul Bait yang dipimpin aleh Abdul Azis.

Selanjutnya kepemimpinan dipegang oleh Yazid Bin Alwalid yaitu Yazid III selama kurang lebih 6 bulan lamanya dan mengangkat Ibrahim bin Al Walid sebagai penggantinya.  Konflik perebutan kekuasaan yang lain mulai muncul, Marwan Bin Muhammad bin Marwan bin Hakam Al-Ja’di pada awalnya seorang panglima pasukan perang menolak berbaiat kepada Ibrahim bin Al Walid. Justru ia membuat konspirasi agar keinginannya menjadi khalifah terwujud dengan membaiat saudara khalifah terpilih. Sehingga muncullah konflik yang pada akhirnya Marwan menyerang Damaskus dan merebut ke Khalifaan yang sah.

Kecurigaan terhadap penduduk Damaskus menjadi latar belakang Marwan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Kota Harran di Al-Jazirah. Kebijakan ini memicu pemberontakan dimulai dari Palestina berlanjut ke Damaskus. Pemberontakan berhasil direda oleh Marwan akan tetapi Ia tidak mampu melawan pemberontakan yang terjadi di Irak. Dan pada akhirnya pada tahun 132 H jatuhlah kekuasaan Bani Umayyah secara total, Khalifah di ambil alih oleh Bani Abbasiyah.

 

Catatan

Tulisan ini disusun dengan tujuan menunjukkan perubahan-perubahan dalam kurun waktu 40 tahunan, sehingga tidak menyajikan peristiwa detail.

Sumber

  1. Yusuf Al’isy .2007. Dinasti Umawiyah
  2. Tamim Ansary.2017. Dari Puncak Bagdad

You May Also Like

About the Author: agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *